PENDAHULUAN
MASA KECIL SUSI PUDJIASTUTI
SUSI DAN KEUNIKAN KISAH HIDUPNYA
SUSI DAN FALSAFAH HIDUPNYA
·
Perempuan Tangguh
·
The Outsider “Berfikir Diluar Pakem”
·
Bekerja dengan Cinta dan Hati
·
Hidup Bermanfaat Sebanyak-Banyaknya Bagi Orang Lain
·
Filosofi Palugada
SUSI DAN CITA-CITA DAN MIMPI HIDUPNYA
·
Anak Kampung yang Terpesona Dengan Pesawat Terbang
SUSI DIMATA MASYARAKAT
SERTA KEHIDUPAN SOSIALNYA
SUSI DALAM MEMBANGUN KERAJAAN BISNISNYA
·
Bermula Dari Pengepul Ikan Dan Kodok
·
Dengan Cinta, Susi menguasai Udara
·
Ratu Lobster Asia-pun Diraihnya
·
Hidup Harus Terus Bergerak
·
Waktu Tidak Akan Pernah Menunggu Maka Berpaculah!
SUSI DAN KENANGAN TSUNAMI ACEH
PULANG KAMPUNG BAWA HELI
SEKOLAH PILOT DI RUMAHNYA
SUSI PUDJIASTUTI DAN REVOLUSI MENTAL
·
Pertimbangan secara Matang
·
Bagian dari Revolusi Mental?
HAL UNIK SEPUTAR SUSI PUJIASTUTI
·
Dikira Mata-mata Asing
·
Perempuan yang merokok
·
Prestasi yang Membanggakan, Banyaknya Penghargaan
·
Pintar tetapi Tak Tamat SMA
·
Awal Mula Penyewaan Pesawat
·
Pernah Masuk Daftar Pencarian Orang (DPO)
·
Memiliki hobby surving
· Susi Air Beri Penerbangan Gratis Setiap Ada Bencana
· Bisa Mengemudikan Truk
· Mempunyai banyak perusahaan
PENGHARGAAN YANG PERNAH DI RAIH SUSI PUDJIASTUTI
DAFTAR RUJUKAN
PENDAHULUAN
Belakangan ini Indonesia
dihebohkan oleh sosok mentri perempuan yang tidak biasa. Namanya Susi
Pudjiastuti. Kehadiran Susi bukanlah sebuah hal yang baru, karena kiprah susi
sudah lebih dahulu dikenal pupling melalui dua perusahaan yang dia pimpin.
Naman sosok itu kini menjadi berita yang begitu seksi untuk disimak dan
didengarkan.
Tentu saja banyak pandangan
yang berseliweran mengenai kisah hidup Susi Pudjiastuti, apalagi setelah ia
ditunjuk oleh Presiden Jokowi Dodo untuk menahkodai dalah satu kementrian di
cabinet kerja yang ia pimpin. Ada yang memuji dan tentu saja ada yang mencibir,
kerena kehadiran Susi begitu controversial di mata masyarakat Indonesia,
apalagi setelah Indonesia terbelah dua karena persaingan dalam menduduki kursi
nomor satu di Indonesia
Dalam buku ini kami mencoba
paparkan kisah perjalanan hidup Susi Pudjiastuti, mulai dari masa kecil,
remaja, memasuki usia sekolah, hingga bagaimana ia membangun kerajaan binisnya
yang begitu besar. Namun ada baiknya kami menuliskan beberapa penggal paragraph
yang sudah tersebar luas di media cetak dan on line selama ini. Dan kisah ini
kami ambil dari salah satu rubric Merdeka.com.
“Saya (Susi Pudjiastuti) mengenal
dunia usaha sejak remaja. Tepatnya sejak saya memutuskan untuk meninggalkan
bangku sekolah tahun 1982. Waktu itu saya baru kelas 2 SMA. Saya sadar
dengan hanya berbekal ijazah SMP, tak akan ada satupun perusahaan yang mau
mempekerjakan saya. Kalaupun ada hanya sebatas sebagai cleaning service.
Tapi pada saat itu saya yakin
bahwa putus sekolah bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun mungkin keputusan
itu salah; saya tidak pernah menyesalinya. Yang saya sangat tahu waktu itu
adalah "School was just not my thing". Saya selalu punya keyakinan
kalau kita mau berbuat sesuatu pasti akan ada jalan, saya selalu percaya bahwa
manusia diberi pilihan untuk menciptakan jalan hidup yang dipilihnya.
Saya ciptakan sebuah usaha,
pekerjaan yang yakin akan menghasilkan uang, di mana akhirnya saya tidak harus
bergantung dengan orang lain. Saya tidak suka ketergantungan, karena
ketergantungan akan mengurangi kemandirian. Tanpa kemandirian kita akan selalu
dalam keterbatasan dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu, sehingga
akhirnya hasilnya tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.
Kehidupan nelayan di
Pangandaran dan pesisir Pantai Selatan Jawa, begitu keras dan penuh resiko,
dinihari melaut siang atau sore baru pulang, setiap hari tidak peduli ombak
atau cuaca untuk sebuah keyakinan. Ini banyak memberikan kepada saya keyakinan dan
lebih mengerti makna hidup adalah sebuah keyakinan.
Masa-masa itu untuk bertahan
hidup saya jualan Bed Cover, cengkeh, hingga akhirnya menjual ikan hasil
tangkapan para nelayan. Pokoknya apa saja yang bisa saya kerjakan akan saya
kerjakan. Dan ketika pada akhirnya saya fokus di bisnis hasil tangkapan Lobster
nelayan, peluang besar itu akhirnya datang. Tantangannya adalah saya harus
membawa Lobster hidup dari Pangadaran ke Jakarta untuk diekspor ke luar negeri.
Perjalanan yang jauh,
berjam-jam membuat angka kematian sangat tinggi. Hal ini membuat saya bertekad
menerbangkan lobster-lobster hidup tadi dengan pesawat kecil ke Jakarta.
Para pemimpin masa depan,
dalam hidup ini kita juga harus berani mengambil resiko.Ini terjadi ketika saya
kembali nekat memutuskan mendaratkan pesawat kecil saya di Meulaboh dan Pulau
Simeuleu, setelah tsunami menggerus pesisir timur propinsi NAD.
Semua orang tergerak untuk
membantu, termasuk saya. Tanpa izin terbang bahkan ijin operasi, tanpa
kepastian bisa mendarat atau tidak, saya akhirnya bisa meyakinkan semua pihak,
Meulaboh bisa ditembus lewat udara.
Dan sejak hari itu bantuan
mengalir ke sana. Ini bukanlah kisah heroik saya. Namun, ada perasaan
"Hangat" (saya merasakan "good feeling" yang luar biasa!)
menyusup ke dalam hati kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuk orang lain
karena kita bisa & memutuskan untuk melakukannya.
Keyakinan, keberanian seperti
inilah yang membuat saya bertahan dan menjadi seperti sekarang ini; membawa
pesawat-pesawat kecil saya menembus pedalaman, pelosok Indonesia.
Pemimpin masa depan, saya
tahu tidaklah mudah memulai sebuah usaha di negeri kita tercinta ini. Begitu
banyak barikade yang harus kita hadapi, dari regulasi yang tidak fleksibel,
paper work exercise yang berlapis yang mencekik kita, bahkan setelah kita
menjadi sebesar sekarang.Tapi itulah tantangan kita, untuk membuat lingkungan
usaha lebih kondusif bagi semua pihak, untuk menciptakan lapangan kerja dan
kesempatan untuk lebih banyak anak bangsa.
Yang saya lakukan hanyalah
sebagian dari tujuan kita untuk menjadi bagian Indonesia. Memudahkan,
mendekatkan anak-anak bangsa dengan ibu kota, atau kabupaten dengan
propinsi.Mengubah hari perjalanan menjadi hanya satu jam atau dua jam saja.
Ikut berpartisipasi menjaga NKRI.
Pesan saya untuk para
pemimpin masa depan: mulailah ubah pola pikir kita, untuk selalu mau bekerja
keras jangan berleha-leha.Sangatlah tidak pantas di negeri yang kaya raya; kita
menjadi miskin. Seperti tikus mati di lumbung padi. Sumber daya apa yang kita
tidak punyai di negeri ini?
Saya tahu saya orang yang
tidak mau diatur, diperintah atau disuruh untuk melakukan hal-hal yang tidak
sesuai dengan hati nurani, tapi itulah yang membuat saya menjadi manusia dengan
pikiran merdeka.
Pemimpin masa depan, yakinlah
keberhasilan kita untuk masa depan bangsa kita hanya kita dapatkan dengan jiwa
& pikiran yang merdeka dan mandiri.
MASA KECIL SUSI PUDJIASTUTI
Indonesia
hari ini cukup dihebohkan oleh kehadiran wanita tangguh. Disebut sebuha nama,
Susi Pudjiastuti, ya… semakin hari, nama ini semakin popular dan selalu mencuri
perhatian, khususnya para pencari berita di tanah air. Sekilas, tentu tidak ada
yang aneh dari wanita tangguh ini, dengan perawakan berkulit gelap dengan umur
yang sudah tidak muda lagi, namun masih terlihat cantik dan menarik.
Nama
Susi Pudjiastuti semakin menjadi buah bibir rakyat Indonesia, baik di media
elektronik, media massa Nasional maupun local, bahkan hampir diseluruh media
social membicarakan fenomena Susi Pudjiastuti. Apalagi setelah dilantik
Presiden Joko Widodo menjadi
Menteri Kelautan dan Perikanan.
Sosok
Susi Pudjiastuti jelas sekali berbeda dengan pejabat yanglainnya, dia bukan
tipikal orang kebanyakan yang pada akhirnya, Susi dipuji dan dicaci. Begitu
banyak yang memberikan apresiasi penuh pengharapan, mendukung bahkan
mengidolakan perempuan yang mempunyai tatto burung hong di betisnya ini, namun
tidak sedikit juga yang mencibir dan melecehkan. Apalagi begitu banyak berita
yang beredar, bahwa Susi hanya lulusan SMP.
“Apa
kata anak-anak kita, lulusan SMP saja bisa jadi mentri”. Kalimat itu tentu saja
datang dari mereka yang selalu melihat sesuatu dari luarnya saja “cover”, tanpa
mau mencari tau dan menilai secara objektif akan objek pembicaraan dan hinaan
mereka. Hal ini juga membuat kekhawatiran para akademisi ningrat yang duduk di
menara gading. Mereka seolah kehabisan kata-kata dan pada akhirnya hanya
menilai buruk.
Perjalanan
Susi Pudjiastuti hingga hari ini tentu saja bukan perjalanan yang mudah. Banyak
sekali persoalan hidup yang menuntutnya hingga dia menjadi seorang yang
“dianggap” oleh Indonesia hari ini. Khususnya pada cabinet kerja Presiden Joko
Widodo.
Susi
Pudjiastuti hidup didampingi seorang suami bewarga negara asing. Hal yang tidak
biasa juga terlihat dari Susi Pudjiastuti, yakni dia merupakan perempuan yang
memiliki komunikasi yang lugas dengan kesan ceplas-ceplos apa adanya.
Wanita kelahiran Pangandaran, 15
Januari 1965 ini begitu terlihat unik dengan kesehariannya, selain terkenal
dengan nama "Susi Air", dia juga juga popular dengan panggilan Susi
Kodok. Panggilan ini datang dari masyarakat dan konsumennya. Julukan "Susi
Kodok" berawal dari usahanya berbisnis Kodok yang ia datangkan dari
Cikampek. Dan karena usaha itu juga, pelan-pelan masyarakat luas mengenalnya
dengan panggilan Susi Kodok.
Ketika
kecil, sang ibu hanya membayangkan Susi kelak akan menjadi seorang istri dan
ibu rumah tangga biasa, tapi susi berkata tidak, bahkan dia memiliki cita-cita
yang cukup unik dengan cita-cita sebagai ahli Oceanologi yaitu ahli di bidang
ilmu kelautan. Luar biasa, yang pada akhirnya dia berada pada posisi tertinggi
dari cita-citanya.
Banyak
sekali hal unik dalam perjalan masa kecil Susi. Sebagai seorang anak perempuan,
Susi memiliki sikap serta pendirian yang keras dan tegas, namun begitu, ia
adalah orang yang memiliki kelembutan hati dan bahkan ringan tangan pada
sesama. Hal ini terlihat ketika masa kanak-kananya dengan menyantuni
orang-orang anak. Ketika ada orang yang memiliki kelainan mental “gila” di
dekat rumahnya, ia bahkan mengajaknya pulang, memandikan dan memberikan makan.
Sifat
kelembutan hati itu bahkan berlangsung hingga Susi menjadi seorang juragan dan
milyader di Pangandaran. Dia bahkan sering bepergian, "blusukan" ke kampung-kampung
nelayan untuk memberi obat kepada nelayan yang sakit. Dan luar biasanya, ia bahkan
tak ragu untuk membasuh luka-luka para nelayan tersebut.
Susi merupakan
wanita keturunan Jawa konservatif, dia adalah anak sulung dari tiga bersaudara
dari Ayah dan Ibu yang berasal dari Jawa Tengah yang sudah hidup selama lima
generasi di Pangandaran. Dari cerita turun temurun, kakek buyut berprofesi
sebagai saudagar sapi dan kerbau, yang kala itu berdagang dengan membawa
ratusan ternak sapi dan kerbau tersebut dari dari Jawa Tengah menuju Jawa
Barat untuk diperdagangkan. Namun tidak ada cerita yang bisa dia dapatkan,
kenapa kakek buyutnya akhirnya memilih Pangandaran tempat mereka menetap. Dan
Haji Ireng, itulah nama kakek buyut, yang dikenal sebagai tuan tanah di
pagandaran.
Haji Karlan Sebagai
keturunan Haji Ireng, tentu saja mewarisi begitu banyak bidang tanah di
kampungnya. Tanah ayahnya begitu banyak, dan diantaranya ada juga yang
berupa kolam-kolam ikan dan ada juga kebun kelapa untuk dipanen dan dijual
kopranya.
Selain memiliki
perkebunan yang begitu luas, Sang ayah juga hidup sebagai pengusaha perahu
sewa, dan perahu-perahu itu dimanfaatkan oleh para nelayan untuk mencari ikan
dengan sistem bagi hasil. Dan di lingkungan keluarga yang berkecukupan itulah
Susi lahir, tumbuh dan dibesarkan. Susi memang tidak pernah merasa kekurangan
selama hidup bersama keluarganya, hingga ia mengambil keputusan yang akhirnya
merubah jalan hiudpnya.
Kendatipun Susi
terlahir dari keluarga berada, Susi kecil tetap saja Susi anak kampung
kebanyakan, bermain kian kemari dan sesekali berteriak ketika dirinya melihat
pesawat terbang yang melitas di udara kampungnya. Sebagai anak, Susi memang
agak berbeda dengan teman-teman sebayanya, dia kadang merasa kesepian, karena
ajang bergaulnya-pun sebatas pada anak kampong saja. Tak banyak dunia luar yang
bisa dilihat dan dinikmati Susi, kecuali saat-saat piknik dengan sekolah, atau
diajak oleh orang tuanya melihat keramaian Kota Ciamis atau Tasikmalaya
Susi kesil
bersekolah di SD Negeri 8 Pangandaran antara tahun 1972-1977, lalu, melanjutkan
ke SMP Negeri 1 Pangandaran pada 1978-1980. Susi terbilang anak pintar dan
selalu mendapatkan rangkin pertama di sekolah. Dan ketika selesai SMP-lah, Susi
benar-benar menyaksikan dunia luar, karena orang tuanya mengirim Susi
bersekolah di SMA Negeri 1 Yogyakarta. SMA 1 Yogyakarta kala itu bahkan
sampai hari ini memang sekolah favorit dan terbilang bagus di tanah air.
Akan tetapi, hari
ini Susi hanya memiliki ijazah hingga SMP, karena ketika bersekolah di SMA N 1
Yogyakarta, dia memutuskan untuk berhenti. Banyak cerita yang beredar bahwa dia
diberhenti saat kelas dua karena Susi aktif pada gerakan Golput, sementara
gerakan ini sangat terlarang pada dekade 80-an. Ada juga cerita yang mengatakan
karena Susi sering sakit-sakitan dan akhirnya tidak lagi mau melanjutkan
sekolah. Meskipun demikian, Susi tidak menyerah dan berhenti begitu saja, dia
tetap bergerak mengejar cita-citanya menjadi seorang yang menguasai bidang
kelautan.
Ketika masih duduk
di bangku sekolah, Susi begitu pintar berbahasa Inggris dan bahkan Jerman. Dan
dari beberapa sumber yakni Suharto, salah satu tetangganya di Pangandaran
mengatakan bahwa Susi remaja tepat nya ketika SMP sering terlihat ngobrol dengan
para bule.
Menurut para
tetangganya, Susi kecil tak beda dengan anak-anak perempuan kampung lainnya di
Pangandaran. Namun, yang terlihat unik, Susi sudah menampakkan sikap yang mandiri
sejak kecil sekalipun keluarganya termasuk kalangan berada.
Susi kecil terlihat
sering sekali berjualan ikan dengan cara berkeliling, hal ini bukan karena orang
yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan dia berasal dari keluarga
yang kaya raya serta berkecukupan. Hanya saja, Susi hidup tanpa mau menunjukkan
sikap yang berlebih, hidup mandiri dan tidak mengenal gengsi.
Setelah lulus SMP
di Pangandaran, Susi-pun melanjutkan sekolah ke SMA 1 di Yogyakarta. Tapi
sayang, sekolahnya hanya sampai pada kelas XI dan tidak selesai disebabkan
diberhentikan oleh sekolah di tengah jalan. Setelah berhenti sekolah, di
Yogyakarta, Susi kembali ke Pangandaran,
Susi cukup berbeda
dengan anak baru gede (ABG) pada umumnya, karena Susi lebih suka menghabiskan
hari-harinya dengan belajar, membaca buku. Kebiasaan yang sudah dia lakukan
semenjak bersekolah di Pangandaran. Masa remajanya, juga di iringi dengan
sakit-sakitan yang setiap saat menderanya, khususnya selama berada di
Jogjakarta.
Sebagai remaja
putri, Susi sama sekali tak suka bersolek atau membeli pernak-pernik untuk
mempercantik diri atau menarik perhatian lelaki. Susi lebih memilih membeli
buku untuk dibaca daripada hal-hal lain. Bahkan menurut teman-teman dekatnya,
Susi tidak pernah bercerita, atau mereka bahkan tidak pernah mendengar tentang
cerita asmara Susi.
Meskipun demikian,
Susi juga bukan tipikal perempuan yang menutup dari lelaki, karena sifatnya
yang mudah bergaul dan ceria. Hanya saja, menurut orang-orang terdekat susi
ketika remaja, topik perbincangan mereka dengan Susi tak pernah jauh dari soal
pemerintahan saat itu, seharusnya Indonesia seperti apa, dan tentang buku yang
dibacanya.
Dan menariknya
lagi, apa yang dibicarakan jauh ke depan, bukan seperti pemikiran anak usia 16
tahun. Bahkan teman-temannya kadang tidak paham, dan baru ketika kuliah mereka
menyadari maksud yang dibicarakan Susi ketika masih duduk dibangku sekolah.
Kehadiran Susi
ketika masih bersekolah, kerap
menginspirasi teman-temannya. Dia dikenal sebagai siswi yang pandai bergaul,
sederhana, dan apa adanya. Susi sering sekali membuat iri teman-temannya,
dengan semangat belajarnya luar biasa.
Meskipun demikian, sosok Susi kala
remaja adalah sosok gadis yang ceria, meskipun dia sering sakit-sakitan.
Kondisi ini membuat Susi sering absen sekolah. Luar biasanya, perempuan
kelahiran 15 Januari 1965 ini tak pernah mengeluh atas sakit yang dideritanya. Meskipun ia kadang jatuh pingsan di sekolah. Kondisi kesehatan itulah yang
menganggu Susi bersekolah dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Walaupun pesakitan, Susi tidak pernah menunjukkan wajah yang lemas
dan tidak bersemangat, wajahnya tetap ceria dan selalu dihiasi senyum.
Sahabat Susi ketika bersekolah di
SMA 1 Jogjakarta, yang bernama Dwikorita mengatakan, keputusan Susi Pudjiastuti
untuk tidak melanjutkan studi ialah karena kondisi kesehatannya sudah tidak
memungkinkan, bukan karena pelanggaran peraturan sekolah, atau bukan juga
karena gerakan golput yang disuarakan Susi. Sebab, Susi Pudjiastuti tidak
pernah melakukan pelanggaran atau berbuat onar di sekolah.
Berhentinya Susi dari sekolah dan
kembali ke Pangandaran, Susi sempat tidak bertegur sapa dengan Ayahnya selama satu
tahun, meski tinggal masih satu rumah. Hal itu karena sang Ayah tidak bisa
menerima keputusan Susi untuk berhenti sekolah. Berjalannya waktu, kondisi
itupun akhirnya mencair, dan sang ayahpun mendukung semua keputusan yang
diambil oleh Susi.
Hidup dilingkungan keluarga yang
sangat demokratis, Susi sejak kecil, dibebaskan untuk membaca buku-buku tentang
apa saja, mulai dari buku-buku tentang tokoh-tokoh terkenal, demokrasi hingga
filsafat. Semua bacaan itu membuka wawasan Susi hingga membuat dia berani
mengambil keputusan dan resiko tentang hidupnya. Dan tidak heran, bila sejak
remaja Susi terbiasa untuk bersikap independen, mandiri, bertanggungjawab serta
bekerja keras. Sikap-sikap positif itulah yang membantunya dalam mengembangkan
bisnisnya di bidang perikanan dan penerbangan dikemudian hari.
SUSI DAN KEUNIKAN KISAH HIDUPNYA
Susi
Pudjiastuti, mentri jentrik dengan segudang prestasi ini, juga memiliki
segudang kisah hidup yang begitu unik. Dia hadir sebagai pendiri dan President
Direktur PT. ASI Pudjiastuti serta PT. ASI Pudjiastuti Aviation. Susi bukanlah
wanita biasa, sosoknya yang tomboy dan bersahaja begitu fasih dan mahir
dalam bahasa Inggris, hal itu terlihat ketika harus berkomunikasi dengan pilot-
pilot bule dari Susi Air. Sebagai warga Pagandaran, tentu Susi juga bisa
lekoh dalam berbahasa Sunda yang merupakan bahasa kesehariannya. Bahkan
sebagai wanita keturunan Jawa, Susi juga bisa medog dalam menggunakan bahasa Jawa
kepada beberapa orang kerabat dan pada asisten rumah tangganya.
Siapa
sangka, wanita yang hanya memiliki ijazah hingga SMP ini memiliki lebih 50 unit
pesawat dalam berbagai jenis. Mulai dari jenis Grand Caravan 208B, Piaggio
Avanti II, Pilatus Poter, hingga Diamond DA 42. Tidak itu saja, Susi juga
memiliki pabrik pengolahan ikan yang paling mutahir hari ini di Indonesia.
Ada hal yang
menarik dari perjalanan hidup Susi, hal itu terjadi ketika dia dianggap gila
oleh pihak Bank ketika hendak meminjam uang, alhasil pinjamanpun tidak
didapatkan. Dan hari ini Bank berlomba-lomba untuk member pinjaman kepada Susi.
Bagi Susi, meski
sokolah hanya hingga SMP, bukan berarti berhenti berbuat dan bekarya untuk
dirinya dan orang lain. Berkonsentrasi dari bakat bisnis yang telah dimilikinya
semenjak masih belia, Susi mencoba berbagai macam cara untuk menjual hasil
tanggapakan lautnya. Pendiriannya yang kuat dan kemauannya yang keras dalam
mengarungi hidup diusia yang masih muda belia, terlihat jelas ketika Susi
mengambil keputusan untuk keluar dari sekolah ketika masih kelas II SMA.
Prinsip itu tidak
hanya sampai disitu saja, bahkan Susi memutuskan untuk keluar dari rumah, bukan
karena menyesal, tapi dia tak ingin menumpang hidup dengan oarang tuanya,
ditambah lagi, ketidaksetujuan sang Ayah terhadap sikapnya untuk berhenti sekolah,
tapi murni karena ingin mencoba hidup sendiri dan mandiri tanpa baying-bayang
orang tua, meskipun dia terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan.
Susi menyadari
betul, bahwa keputusan yang dia ambil tidaklah mudah atau tidak semudah yang
dibayangkan. Ditambah lagi dengan ijasah SMP yang dia punya, tentu dia tidak
bisa berbuat banyak untuk melamar pekerjaan. Jalan yang paling masuk akal saat
itu bagi Susi adalah berwirausaha, dan karena itulah kerja keras itupun
dilakoninya. Mulai dari bejualan baju, bed cover, hingga yang manarik ia
menjual hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi tak berhenti bekeliling
kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya.
Hingga suatu saat, ia menyadari satu hal tentang kota itu, potensi terbesarnya
ada pada bidang perikanan.
Pada awalnya, tak
banyak yang bisa dilakukan Susi dengan ijazahnya yang hanya hingga SMP,
mengingat cita-cita besarnya untuk jadi seorang yang ahli dalam kelautan. Tapi
Susi tidak mau menggeser cita-cita itu, ia tetap abdikan dirinya sembari
menyambung hidup dalam bisnis kelautan.
Mulai saat itulah,
Susi mengambil keputusan ingin berjualan ikan karena setiap hari dia melihat
ratusan nelayan berseliweran di Pangandaraan. Di tahun 1983, berbekal Rp.750
ribu hasil penjualan perhiasan berupa gelang, kalung serta cincin miliknya,
Susi mengikuti jejak para wanita Pangandaran menjadi bakul ikan. Tiap pagi di
jam- jam tertentu, dia bergabung bersama bakul ikan lainnya berkerumun di di
TPI (tempat pelelangan ikan). Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, bisnis
Susi selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Dia bergerak sendiri
menjajakan ikan dan hasil laut lainnya kepada para pedagang dan restouran, baik
di Pagandaraan dan sekitarnya dan bahkan hingga ke Jakarta.
Susi pernah
berkisah, pada hari pertama dia menjadi bakul ikan, dia hanya memperoleh 1
kilogram ikan, yang kemudian dibeli sebuah resto kecil kenalannya. Namun pada
akhirnya, tak cukup hanya di Pangandaran saja, Susi ingin mengembangan
bisnisnya hingga kota besar seperti Jakarta. Berawal dari menyewa kendaraan
untuk mengangkut ikan hasil tanggapan para nelayan, akhirnya dia berhasil dan sukses
membeli sebuah truk dengan sistem pendingin es batu yang bisa membawa ikan-
ikan segarnya ke Jakarta. Bahkan tiap sore hari, lebih kurang pukul 15.00 setiap sorenya, Dia berangkat dari Pangandaran,
menuju Jakarta dan sampai menjelang tengah malam, lalu kembali lagi ke
Pangandaran.
****
Susi
Pudjiastuti merupakan perempuan asli Jawa, namun sudah bertahun-tahun bahkan
sudah beberapa generasi menghabiskan hidup di Jawa Barat, tepatnya
diPangandaran. Dengan bisnis keluarga yang dibangun di pangandaran, akhirnya
Susipun luwes berbahasa Sunda.
Sebagai
pedagang dan pengusa ikan segar, pelanggan Susi tidak saja dari Indonesia, dia
bahkan sudah puluhan tahun melayani pelanggannya dari manca negara, dan ia
sering terbang keluar negeri dengan pesawatnya sendiri. dan tentu saja, ia juga
fasih dalam melafalkan bahasa internasional itu “ingris” dan seolah dia berlidah
bule.
Tentu
saja banyak kisah orang sukses di Indonesia dimana mereka tidak tidak
menamatkan sekolahnya, dan Susi adalah salah seorang dari orang sukses itu dan
uniknya, dia adalah seorang perempuan. Rasanya semua orang akan berdecak kagum
dan nyaris tidak percaya pada keberhasilan Susi jika mereka tahu masa lalunya
yang hanya lulusan SMP.
Selama
ini sosok Susi nyaris luput dari sorot media nasional, bahkan dalam bentuk apa
saja. Tidak banyak orang yang mencari tahu sosok Susi perempuan sukses dari
Pangandaran, padahal begitu banyak hal unik dan pelajaran yang dapat dipetik
dari sosok uletnya.
Dulu
ketika gempa dan tsunami aceh melanda, nama Susi pernah disebut-sebut media,
kemudian hilang kembali. Beberapa tahun setelah itu, namanya kembali muncul
pada salah satu acara talk swow di Metro TV Kick Andy pada 30 Maret 2008. Dan setelah itu, berita Susipun hilang kembali.
Banyak
pihak hari ini berkata, seharusnya hari Kartini lebih banyak mengupas sosok
perempuan seperti Susi Pudjiastuti. Karena begitu banyak inspirasi yang bisa
ditularkan dari sosoknya yang cuek, namun bersahaja. Sosok perempuan pebisnis,
yang membangun bisnisnya dari nol, sehingga menjadi perusahaan pengekspor hasil
laut segar (lobster, tuna, udang, kakap) kelas kakap di Indonesia dengan nilai
ekspor puluhan juta USD.
Dari
hasil wawancara sebuah majalah on line Niriah.com dengan susi, banyak
sekali kisah unik dari perjalanan bisnis yang dijalani Susi sembari
mengentaskan kemiskinan diberbagai pelosok di Indonesia.
Ada
kisah seseorang
dari Papua yang kemudian datang kepada Susi dan mengungkapkan bahwa Susilah yang
bisa mengentaskan kemiskinan nelayan di tempat mereka. Dan pada saat yang lain,
datang seorang perempuan dari Malang yang mengeluhkan kepadanya tentang
bisnisnya yang selalu gagal dan kemudian meminta nasehat untuk sukses dari
Susi. Dan kisah ini menariknya, apa yang disampaikan Susi, bahwa si perempuan
diminta untuk menjual rumahnya, kemudian uangnya dipergunakan untuk modal.
Dulu sebelum
sukses, Susi pernah bercerita bahwa dia mengontrak rumah selama 16 tahun,
sebelum dia membeli rumah sendiri. itulah uniknya Susi Pudjiastuti, seorang eksportir
hasil laut yang juga Presiden Direktur PT ASI Pudjiatuti Aviation atau dikenal
dengan Susi Air, yang melayani penyewaan pesawat penumpang dan cargo.
Suksesnya Susi
dengan armada penerbangannya yang cukup banyak, memberikan harapan baru bagi
banyak orang untuk mempergunakan jasanya dan kerja sama susi dengan pihak luar
dalam mengeskpor segala macam hasil usaha dari dalam negeri. Bahkan ada yang
datang kepada Susi, seorang lelaki muda dari Yogyakarta yang menawarkan belut
untuk diekspor ke Jepang. Susi menjawab dengan begitu simpatik, "Saya
tidak janji ya, tapi saya akan berusaha cari pasarnya dulu, dan nanti saya akan
beritahu kabarnya”.
Kesahajaan dan
sikap simpatik Susi begitu terlihat ketika dia berhadapan dengan para
karyawannya. Pernah suatu ketika ia mengumpulkan para karyawannya yang
didatangkan dari Jakarta, dan seorang kepala HRD yang berkedudukan di kantor
Susi Air Medan di rumah dekat pantai Pagandaran. Di rumah yang dibangun di atas
kolam buatan Susi duduk di sofa, dengan jemarinya yang tak henti memetik rokok dan
menghisapnya, dan sesekali ia menyeruput kopi pahitnya. Sambil menerima dan
ngobrol dengan para tamunya, Susi sering sekali pamit karena harus menerima
telepon. Seiring waktu berjalan, juga diiringin oleh para karyawannya yang datang
dan pergi, meminta tanda tangan dan lain sebagainya. Dan bahkan dalam kondisi
yang sesibuk itu, ia masih saja sempat mengingatkan sekretarisnya yang sakit
untuk minum vitamin dan memerintahkannya untuk segera pulang.
Ada nilai yang
sangat mahal yang bisa kita dapatkan dari kisah perjalanan hidup Susi yang
begitu penuh pesona kegigihan. Sebuat saja diantaranya, Pertama, ia
seorang yang sukses karena gigih melewati proses. Siapa yang bisa
mengira, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin
miliknya, Susi mulai jadi pengepul ikan pada 1983. Pada saat itu,
kesanggupannya dan keberhasilannya terlihat begitu bertahap. Pada saat pertama
memulai jadi bakul ikan, ia hanya sanggup membeli 1 kg ikan, esok harinya naik 2
kg, lusa 5 kg. dan begitulah seterusnya. Dan dalam tempo setahun, dari pasar
pangandaran ia berhasil memasuki pasar Cilacap.
Susi
begitu lihat melihat peluang usaha, tak mau puas dengan keberhasilan menjual
ikan, dia memulai bisnis menyewakan perahu untuk nelayan mencari ikan dan mobil
untuk pengiriman. Dan saat ini, bisnis penyewaan perahu Susi sudah berjumlah
ratusan perahu serta puluhan unit truk untuk pengiriman.
Banyaknya
hasil tanggapan laut dari nelayan yang menyewa perahu darinya, ia pun menjadi
penyalur tetap hasil laut ke beberapa pabrik besar di Jakarta. Dan setiap
harinya, mulai sore hari ia berangkat ke Jakarta untuk setor hasil tanggkapan
keberbagai restouran dan pabrik pengolahan ikan. Dan sampai di Jakarta malam,
begitu selesai istirahat dan berkemas ia pun langsung balik ke Pangandaran.
Susi
terus berproses untuk maju. Sebagai pebisnis yang selalu ingin maju,
dari pengepul, pemasok pabrik dan restoran, Susi kemudian meningkatkan usahanya
menjadi produsen dan pengekspor hasil laut.
Kedua,
dia selalu berusaha memberi nilai tambah. Rumus baku dari
setiap pebisnis handal, bahwa nilai tambah merupakan keuntungan yang berlipat.
Begitu juga hal yang dilakukan oleh Susi. Ia tahu, semakin segar ikan yang
diekspornya, semakin tinggi pula harganya. Harga ikan dan udang yang fresh
sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, bisa dua kali lipat lebih mahal. Sebut
saja, ikan laut yang biasanya US$ 3/kg, maka kalau tiba kurang dari sehari
semalam, harganya bisa menjadi US$ 8/kg. Itu sebabnya ia tak segan-segan
membeli pesawat terbang Cessna agar ikan atau udang yang diekspor bisa tiba
kurang dari 24 jam.
Nilai
tambah yang lain juga disadari betul oleh Susi, bahwa semakin murni ikan itu
dari bahan pengawet, semakin banyak diburu penggemarnya. Maka ia pun membuat
pabrik pengolahan ikan tanpa bahan kimia. Pendinginnya pun ramah lingkungan
karena menggunakan amoniak, bukan freon yang merusak ozon. Bahkan ia juga
paham, meski karyawannya bergelut dengan ikan setiap hari, mereka membutuhkan
tempat kerja yang nyaman. Maka pabrik ikannya pun dibangun mirip mal penuh
dengan keramik dan kaca, meski untuk itu ia harus mengeluarkan biaya investasi
yang lebih mahal untuk bangunan pabriknya.
Ketiga,
ia mengamalkan ilmu ekonomi bisnis. Meski bukan terlahir
sebagai sarjana ekonomi, sarjana bisnis atau manajemen, tapi Susi begitu paham
fhiloshofi bisnis, meski dia tidak mengerti teori bisnis yang dipelajari
diberbagai perguruan tinggi. Akan tetapi ketika ditanya resep suksesnya, maka
dia akan menjawab, “kalau orang mau berdagang, ya sediakan barang yang bagus,
kasih harga yang bagus”.
Meski
tidak mengenyam pendidikan formal dalam berbisnis, namun dari jejak usahnaya, terlihat
jelas bahwa Susi justru mengamalkan berbagai ilmu manajemen yang banyak diteorikan
oleh para pakar manajemen hari ini.
Kendatipun
dirinya tidak menamatkan program wajib belajar, Susi tetap sadar bahwa
pendidikan itu penting, dia juga tidak menyarankan pada banyak orang untuk
mengikuti jejaknya berhenti sekolah dan kemudian membangun bisnis. Kesadaran
itu juga yang meyakinkan dia, dengan merekrut mereka-mereka yang betul-betul
mengerti dan faham akan dunia yang digelutinya untuk membangun kerajaan
bisnisnya.
Bagi
Susi, dengan tiga faktor
di ataslah, ia bermetamarfosa dari ulat (seorang wanita yang tidak tamat
sekolah, namun tekun dan ulet menggeluti bisnisnya tanpa mengeluh, pantang
menyerah dan tidak gampang puas) menjadi kupu-kupu yang cantik (menjadi pengusaha
eksportir hasil laut yang sukses). Kini Susi telah menjadi kupu-kupu besar yang cantik yang siap terbang ke angkasa
dengan membangun bisnis maskapai pesawat carteran, sebagai ekspansi usahanya.
Dari
pesawat Cessna yang semula hanya dipergunakan Susi untuk mendukung ekspor hasil
lautnya biar mendapatkan nilai tambah, sekarang pesawat-pesaawat itu menjelma
menjadi puluhan dan mampu menggugah semangat wirausahanya untuk masuk ke bisnis
yang lebih besar dengan pesawat carteran. Bahkan, pesawat-pesawat itu mampu
menembus daerah-daerah pelosok, termasuk Aceh dan Papua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar