Minggu, 15 Februari 2015

CERDAS DAN BERANI ITU LEBIH PENTING Wanita berkulit gelap eksotis itu bernama Susi Pudjiastuti.



PENDAHULUAN
MASA KECIL SUSI PUDJIASTUTI
SUSI DAN KEUNIKAN KISAH HIDUPNYA
SUSI DAN FALSAFAH HIDUPNYA
·         Perempuan Tangguh
·         The Outsider “Berfikir Diluar Pakem”
·         Bekerja dengan Cinta dan Hati
·         Hidup Bermanfaat Sebanyak-Banyaknya Bagi Orang Lain
·         Filosofi Palugada

SUSI DAN CITA-CITA DAN MIMPI HIDUPNYA
·         Anak Kampung yang Terpesona Dengan Pesawat Terbang

SUSI DIMATA MASYARAKAT
SERTA KEHIDUPAN SOSIALNYA
SUSI DALAM MEMBANGUN KERAJAAN BISNISNYA
·         Bermula Dari Pengepul Ikan Dan Kodok
·         Dengan Cinta, Susi menguasai Udara
·         Ratu Lobster Asia-pun Diraihnya
·         Hidup Harus Terus Bergerak
·         Waktu Tidak Akan Pernah Menunggu Maka Berpaculah!

SUSI DAN KENANGAN TSUNAMI ACEH
PULANG KAMPUNG BAWA HELI
SEKOLAH PILOT DI RUMAHNYA

SUSI PUDJIASTUTI DAN REVOLUSI MENTAL

·         Pertimbangan secara Matang
·         Bagian dari Revolusi Mental?

HAL UNIK SEPUTAR SUSI PUJIASTUTI
·         Dikira Mata-mata Asing
·         Perempuan yang merokok
·         Prestasi yang Membanggakan, Banyaknya Penghargaan
·         Pintar tetapi Tak Tamat SMA
·         Awal Mula Penyewaan Pesawat
·         Pernah Masuk Daftar Pencarian Orang (DPO)
·         Memiliki hobby surving

·         Susi Air Beri Penerbangan Gratis Setiap Ada Bencana

·         Bisa Mengemudikan Truk

·         Mempunyai banyak perusahaan


PENGHARGAAN YANG PERNAH DI RAIH SUSI PUDJIASTUTI
DAFTAR RUJUKAN









PENDAHULUAN




Belakangan ini Indonesia dihebohkan oleh sosok mentri perempuan yang tidak biasa. Namanya Susi Pudjiastuti. Kehadiran Susi bukanlah sebuah hal yang baru, karena kiprah susi sudah lebih dahulu dikenal pupling melalui dua perusahaan yang dia pimpin. Naman sosok itu kini menjadi berita yang begitu seksi untuk disimak dan didengarkan.
Tentu saja banyak pandangan yang berseliweran mengenai kisah hidup Susi Pudjiastuti, apalagi setelah ia ditunjuk oleh Presiden Jokowi Dodo untuk menahkodai dalah satu kementrian di cabinet kerja yang ia pimpin. Ada yang memuji dan tentu saja ada yang mencibir, kerena kehadiran Susi begitu controversial di mata masyarakat Indonesia, apalagi setelah Indonesia terbelah dua karena persaingan dalam menduduki kursi nomor satu di Indonesia
Dalam buku ini kami mencoba paparkan kisah perjalanan hidup Susi Pudjiastuti, mulai dari masa kecil, remaja, memasuki usia sekolah, hingga bagaimana ia membangun kerajaan binisnya yang begitu besar. Namun ada baiknya kami menuliskan beberapa penggal paragraph yang sudah tersebar luas di media cetak dan on line selama ini. Dan kisah ini kami ambil dari salah satu rubric Merdeka.com.
“Saya (Susi Pudjiastuti) mengenal dunia usaha sejak remaja. Tepatnya sejak saya memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah tahun 1982. Waktu itu saya baru kelas 2 SMA. Saya sadar dengan hanya berbekal ijazah SMP, tak akan ada satupun perusahaan yang mau mempekerjakan saya. Kalaupun ada hanya sebatas sebagai cleaning service.
Tapi pada saat itu saya yakin bahwa putus sekolah bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun mungkin keputusan itu salah; saya tidak pernah menyesalinya. Yang saya sangat tahu waktu itu adalah "School was just not my thing". Saya selalu punya keyakinan kalau kita mau berbuat sesuatu pasti akan ada jalan, saya selalu percaya bahwa manusia diberi pilihan untuk menciptakan jalan hidup yang dipilihnya.
Saya ciptakan sebuah usaha, pekerjaan yang yakin akan menghasilkan uang, di mana akhirnya saya tidak harus bergantung dengan orang lain. Saya tidak suka ketergantungan, karena ketergantungan akan mengurangi kemandirian. Tanpa kemandirian kita akan selalu dalam keterbatasan dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu, sehingga akhirnya hasilnya tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.
Kehidupan nelayan di Pangandaran dan pesisir Pantai Selatan Jawa, begitu keras dan penuh resiko, dinihari melaut siang atau sore baru pulang, setiap hari tidak peduli ombak atau cuaca untuk sebuah keyakinan. Ini banyak memberikan kepada saya keyakinan dan lebih mengerti makna hidup adalah sebuah keyakinan.
Masa-masa itu untuk bertahan hidup saya jualan Bed Cover, cengkeh, hingga akhirnya menjual ikan hasil tangkapan para nelayan. Pokoknya apa saja yang bisa saya kerjakan akan saya kerjakan. Dan ketika pada akhirnya saya fokus di bisnis hasil tangkapan Lobster nelayan, peluang besar itu akhirnya datang. Tantangannya adalah saya harus membawa Lobster hidup dari Pangadaran ke Jakarta untuk diekspor ke luar negeri.
Perjalanan yang jauh, berjam-jam membuat angka kematian sangat tinggi. Hal ini membuat saya bertekad menerbangkan lobster-lobster hidup tadi dengan pesawat kecil ke Jakarta.
Para pemimpin masa depan, dalam hidup ini kita juga harus berani mengambil resiko.Ini terjadi ketika saya kembali nekat memutuskan mendaratkan pesawat kecil saya di Meulaboh dan Pulau Simeuleu, setelah tsunami menggerus pesisir timur propinsi NAD.
Semua orang tergerak untuk membantu, termasuk saya. Tanpa izin terbang bahkan ijin operasi, tanpa kepastian bisa mendarat atau tidak, saya akhirnya bisa meyakinkan semua pihak, Meulaboh bisa ditembus lewat udara.
Dan sejak hari itu bantuan mengalir ke sana. Ini bukanlah kisah heroik saya. Namun, ada perasaan "Hangat" (saya merasakan "good feeling" yang luar biasa!) menyusup ke dalam hati kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuk orang lain karena kita bisa & memutuskan untuk melakukannya.
Keyakinan, keberanian seperti inilah yang membuat saya bertahan dan menjadi seperti sekarang ini; membawa pesawat-pesawat kecil saya menembus pedalaman, pelosok Indonesia.
Pemimpin masa depan, saya tahu tidaklah mudah memulai sebuah usaha di negeri kita tercinta ini. Begitu banyak barikade yang harus kita hadapi, dari regulasi yang tidak fleksibel, paper work exercise yang berlapis yang mencekik kita, bahkan setelah kita menjadi sebesar sekarang.Tapi itulah tantangan kita, untuk membuat lingkungan usaha lebih kondusif bagi semua pihak, untuk menciptakan lapangan kerja dan kesempatan untuk lebih banyak anak bangsa.
Yang saya lakukan hanyalah sebagian dari tujuan kita untuk menjadi bagian Indonesia. Memudahkan, mendekatkan anak-anak bangsa dengan ibu kota, atau kabupaten dengan propinsi.Mengubah hari perjalanan menjadi hanya satu jam atau dua jam saja. Ikut berpartisipasi menjaga NKRI.
Pesan saya untuk para pemimpin masa depan: mulailah ubah pola pikir kita, untuk selalu mau bekerja keras jangan berleha-leha.Sangatlah tidak pantas di negeri yang kaya raya; kita menjadi miskin. Seperti tikus mati di lumbung padi. Sumber daya apa yang kita tidak punyai di negeri ini?
Saya tahu saya orang yang tidak mau diatur, diperintah atau disuruh untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tapi itulah yang membuat saya menjadi manusia dengan pikiran merdeka.
Pemimpin masa depan, yakinlah keberhasilan kita untuk masa depan bangsa kita hanya kita dapatkan dengan jiwa & pikiran yang merdeka dan mandiri.


















MASA KECIL SUSI PUDJIASTUTI


Indonesia hari ini cukup dihebohkan oleh kehadiran wanita tangguh. Disebut sebuha nama, Susi Pudjiastuti, ya… semakin hari, nama ini semakin popular dan selalu mencuri perhatian, khususnya para pencari berita di tanah air. Sekilas, tentu tidak ada yang aneh dari wanita tangguh ini, dengan perawakan berkulit gelap dengan umur yang sudah tidak muda lagi, namun masih terlihat cantik dan menarik.
Nama Susi Pudjiastuti semakin menjadi buah bibir rakyat Indonesia, baik di media elektronik, media massa Nasional maupun local, bahkan hampir diseluruh media social membicarakan fenomena Susi Pudjiastuti. Apalagi setelah dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Sosok Susi Pudjiastuti jelas sekali berbeda dengan pejabat yanglainnya, dia bukan tipikal orang kebanyakan yang pada akhirnya, Susi dipuji dan dicaci. Begitu banyak yang memberikan apresiasi penuh pengharapan, mendukung bahkan mengidolakan perempuan yang mempunyai tatto burung hong di betisnya ini, namun tidak sedikit juga yang mencibir dan melecehkan. Apalagi begitu banyak berita yang beredar, bahwa Susi hanya lulusan SMP.
“Apa kata anak-anak kita, lulusan SMP saja bisa jadi mentri”. Kalimat itu tentu saja datang dari mereka yang selalu melihat sesuatu dari luarnya saja “cover”, tanpa mau mencari tau dan menilai secara objektif akan objek pembicaraan dan hinaan mereka. Hal ini juga membuat kekhawatiran para akademisi ningrat yang duduk di menara gading. Mereka seolah kehabisan kata-kata dan pada akhirnya hanya menilai buruk.
Perjalanan Susi Pudjiastuti hingga hari ini tentu saja bukan perjalanan yang mudah. Banyak sekali persoalan hidup yang menuntutnya hingga dia menjadi seorang yang “dianggap” oleh Indonesia hari ini. Khususnya pada cabinet kerja Presiden Joko Widodo.
Susi Pudjiastuti hidup didampingi seorang suami bewarga negara asing. Hal yang tidak biasa juga terlihat dari Susi Pudjiastuti, yakni dia merupakan perempuan yang memiliki komunikasi yang lugas dengan kesan ceplas-ceplos apa adanya.
Wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 ini begitu terlihat unik dengan kesehariannya, selain terkenal dengan nama "Susi Air", dia juga juga popular dengan panggilan Susi Kodok. Panggilan ini datang dari masyarakat dan konsumennya. Julukan "Susi Kodok" berawal dari usahanya berbisnis Kodok yang ia datangkan dari Cikampek. Dan karena usaha itu juga, pelan-pelan masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan Susi Kodok.
Ketika kecil, sang ibu hanya membayangkan Susi kelak akan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga biasa, tapi susi berkata tidak, bahkan dia memiliki cita-cita yang cukup unik dengan cita-cita sebagai ahli Oceanologi yaitu ahli di bidang ilmu kelautan. Luar biasa, yang pada akhirnya dia berada pada posisi tertinggi dari cita-citanya.
Banyak sekali hal unik dalam perjalan masa kecil Susi. Sebagai seorang anak perempuan, Susi memiliki sikap serta pendirian yang keras dan tegas, namun begitu, ia adalah orang yang memiliki kelembutan hati dan bahkan ringan tangan pada sesama. Hal ini terlihat ketika masa kanak-kananya dengan menyantuni orang-orang anak. Ketika ada orang yang memiliki kelainan mental “gila” di dekat rumahnya, ia bahkan mengajaknya pulang, memandikan dan memberikan makan.
Sifat kelembutan hati itu bahkan berlangsung hingga Susi menjadi seorang juragan dan milyader di Pangandaran. Dia bahkan sering bepergian, "blusukan" ke kampung-kampung nelayan untuk memberi obat kepada nelayan yang sakit. Dan luar biasanya, ia bahkan tak ragu untuk membasuh luka-luka para nelayan tersebut.
Susi merupakan wanita keturunan Jawa konservatif, dia adalah anak sulung dari tiga bersaudara dari Ayah dan Ibu yang berasal dari Jawa Tengah yang sudah hidup selama lima gene­rasi di Pangandaran. Dari cerita turun temurun, kakek buyut berprofesi sebagai saudagar sapi dan kerbau, yang kala itu berdagang dengan membawa ratusan ternak sapi dan kerbau tersebut dari dari Jawa Te­ngah menuju Jawa Barat untuk diperdagangkan. Namun tidak ada cerita yang bisa dia dapatkan, kenapa kakek buyutnya akhirnya memilih Pangandaran tempat mereka menetap. Dan Haji Ireng, itulah nama kakek buyut, yang dikenal sebagai tuan tanah di pagandaran.
Haji Karlan Sebagai keturunan Haji Ireng, tentu saja mewarisi begitu banyak bidang tanah di kampungnya.  Tanah ayahnya begitu banyak, dan diantaranya ada juga yang berupa kolam-kolam ikan dan ada juga kebun kelapa untuk dipanen dan dijual kopranya.
Selain memiliki perkebunan yang begitu luas, Sang ayah juga hidup sebagai pengusaha perahu sewa, dan perahu-perahu itu dimanfaatkan oleh para nelayan untuk mencari ikan dengan sistem bagi hasil. Dan di lingkungan keluarga yang berkecukupan itulah Susi lahir, tumbuh dan dibesarkan. Susi memang tidak pernah merasa kekurangan selama hidup bersama keluarganya, hingga ia mengambil keputusan yang akhirnya merubah jalan hiudpnya.
Kendatipun Susi terlahir dari keluarga berada, Susi kecil tetap saja Susi anak kampung kebanyakan, bermain kian kemari dan sesekali berteriak ketika dirinya melihat pesawat terbang yang melitas di udara kampungnya. Sebagai anak, Susi memang agak berbeda dengan teman-teman sebayanya, dia kadang merasa kesepian, karena ajang bergaulnya-pun sebatas pada anak kampong saja. Tak banyak dunia luar yang bisa dilihat dan dinikmati Susi, kecuali saat-saat piknik dengan sekolah, atau diajak oleh orang tuanya melihat keramaian Kota Ciamis atau Tasikmalaya
Susi kesil bersekolah di SD Negeri 8 Pangandaran antara tahun 1972-1977, lalu, melanjutkan ke SMP Negeri 1 Pangandaran pada 1978-1980. Susi terbilang anak pintar dan selalu mendapatkan rangkin pertama di sekolah. Dan ketika selesai SMP-lah, Susi benar-benar menyaksikan dunia luar, karena orang tuanya mengirim Susi bersekolah di  SMA Negeri 1 Yogyakarta. SMA 1 Yogyakarta kala itu bahkan sampai hari ini memang sekolah favorit dan terbilang bagus di tanah air.
Akan tetapi, hari ini Susi hanya memiliki ijazah hingga SMP, karena ketika bersekolah di SMA N 1 Yogyakarta, dia memutuskan untuk berhenti. Banyak cerita yang beredar bahwa dia diberhenti saat kelas dua karena Susi aktif pada gerakan Golput, sementara gerakan ini sangat terlarang pada dekade 80-an. Ada juga cerita yang mengatakan karena Susi sering sakit-sakitan dan akhirnya tidak lagi mau melanjutkan sekolah. Meskipun demikian, Susi tidak menyerah dan berhenti begitu saja, dia tetap bergerak mengejar cita-citanya menjadi seorang yang menguasai bidang kelautan.
Ketika masih duduk di bangku sekolah, Susi begitu pintar berbahasa Inggris dan bahkan Jerman. Dan dari beberapa sumber yakni Suharto, salah satu tetangganya di Pangandaran mengatakan bahwa Susi remaja tepat nya ketika SMP sering terlihat ngobrol dengan para bule.
Menurut para tetangganya, Susi kecil tak beda dengan anak-anak perempuan kampung lainnya di Pangandaran. Namun, yang terlihat unik, Susi sudah menampakkan sikap yang mandiri sejak kecil sekalipun keluarganya termasuk kalangan berada.
Susi kecil terlihat sering sekali berjualan ikan dengan cara berkeliling, hal ini bukan karena orang yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan dia berasal dari keluarga yang kaya raya serta berkecukupan. Hanya saja, Susi hidup tanpa mau menunjukkan sikap yang berlebih, hidup mandiri dan tidak mengenal gengsi.
Setelah lulus SMP di Pangandaran, Susi-pun melanjutkan sekolah ke SMA 1 di Yogyakarta. Tapi sayang, sekolahnya hanya sampai pada kelas XI dan tidak selesai disebabkan diberhentikan oleh sekolah di tengah jalan. Setelah berhenti sekolah, di Yogyakarta, Susi kembali ke Pangandaran,
Susi cukup berbeda dengan anak baru gede (ABG) pada umumnya, karena Susi lebih suka menghabiskan hari-harinya dengan belajar, membaca buku. Kebiasaan yang sudah dia lakukan semenjak bersekolah di Pangandaran. Masa remajanya, juga di iringi dengan sakit-sakitan yang setiap saat menderanya, khususnya selama berada di Jogjakarta.
Sebagai remaja putri, Susi sama sekali tak suka bersolek atau membeli pernak-pernik untuk mempercantik diri atau menarik perhatian lelaki. Susi lebih memilih membeli buku untuk dibaca daripada hal-hal lain. Bahkan menurut teman-teman dekatnya, Susi tidak pernah bercerita, atau mereka bahkan tidak pernah mendengar tentang cerita asmara Susi.
Meskipun demikian, Susi juga bukan tipikal perempuan yang menutup dari lelaki, karena sifatnya yang mudah bergaul dan ceria. Hanya saja, menurut orang-orang terdekat susi ketika remaja, topik perbincangan mereka dengan Susi tak pernah jauh dari soal pemerintahan saat itu, seharusnya Indonesia seperti apa, dan tentang buku yang dibacanya. 
Dan menariknya lagi, apa yang dibicarakan jauh ke depan, bukan seperti pemikiran anak usia 16 tahun. Bahkan teman-temannya kadang tidak paham, dan baru ketika kuliah mereka menyadari maksud yang dibicarakan Susi ketika masih duduk dibangku sekolah.
Kehadiran Susi ketika masih bersekolah, kerap menginspirasi teman-temannya. Dia dikenal sebagai siswi yang pandai bergaul, sederhana, dan apa adanya. Susi sering sekali membuat iri teman-temannya, dengan semangat belajarnya luar biasa.
Meskipun demikian, sosok Susi kala remaja adalah sosok gadis yang ceria, meskipun dia sering sakit-sakitan. Kondisi ini membuat Susi sering absen sekolah. Luar biasanya, perempuan kelahiran 15 Januari 1965 ini tak pernah mengeluh atas sakit yang dideritanya. Meskipun ia kadang jatuh pingsan di sekolah. Kondisi kesehatan itulah yang menganggu Susi bersekolah dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Walaupun pesakitan, Susi tidak pernah menunjukkan wajah yang lemas dan tidak bersemangat, wajahnya tetap ceria dan selalu dihiasi senyum.
Sahabat Susi ketika bersekolah di SMA 1 Jogjakarta, yang bernama Dwikorita mengatakan, keputusan Susi Pudjiastuti untuk tidak melanjutkan studi ialah karena kondisi kesehatannya sudah tidak memungkinkan, bukan karena pelanggaran peraturan sekolah, atau bukan juga karena gerakan golput yang disuarakan Susi. Sebab, Susi Pudjiastuti tidak pernah melakukan pelanggaran atau berbuat onar di sekolah. 
Berhentinya Susi dari sekolah dan kembali ke Pangandaran, Susi sempat tidak bertegur sapa dengan Ayahnya selama satu tahun, meski tinggal masih satu rumah. Hal itu karena sang Ayah tidak bisa menerima keputusan Susi untuk berhenti sekolah. Berjalannya waktu, kondisi itupun akhirnya mencair, dan sang ayahpun mendukung semua keputusan yang diambil oleh Susi.
Hidup dilingkungan keluarga yang sangat demokratis, Susi sejak kecil, dibebaskan untuk membaca buku-buku tentang apa saja, mulai dari buku-buku tentang tokoh-tokoh terkenal, demokrasi hingga filsafat. Semua bacaan itu membuka wawasan Susi hingga membuat dia berani mengambil keputusan dan resiko tentang hidupnya. Dan tidak heran, bila sejak remaja Susi terbiasa untuk bersikap independen, mandiri, bertanggungjawab serta bekerja keras. Sikap-sikap positif itulah yang membantunya dalam mengembangkan bisnisnya di bidang perikanan dan penerbangan dikemudian hari.
















SUSI DAN KEUNIKAN KISAH HIDUPNYA



Susi Pudjiastuti, mentri jentrik dengan segudang prestasi ini, juga memiliki segudang kisah hidup yang begitu unik. Dia hadir sebagai pendiri dan President Direktur PT. ASI Pudjiastuti serta PT. ASI Pudjiastuti Aviation. Susi bukanlah wanita biasa, sosoknya yang tomboy dan bersahaja begitu fasih dan mahir dalam bahasa Inggris, hal itu terlihat ketika harus berkomunikasi dengan pilot- pilot bule dari Susi Air. Sebagai warga Pagandaran, tentu Susi juga bisa lekoh dalam berbahasa Sunda yang merupakan bahasa kesehariannya. Bahkan sebagai wanita keturunan Jawa, Susi juga bisa medog dalam menggunakan bahasa Jawa kepada beberapa orang kerabat dan pada asisten rumah tangganya.
Siapa sangka, wanita yang hanya memiliki ijazah hingga SMP ini memiliki lebih 50 unit pesawat dalam berbagai jenis. Mulai dari jenis Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Poter, hingga Diamond DA 42. Tidak itu saja, Susi juga memiliki pabrik pengolahan ikan yang paling mutahir hari ini di Indonesia.
Ada hal yang menarik dari perjalanan hidup Susi, hal itu terjadi ketika dia dianggap gila oleh pihak Bank ketika hendak meminjam uang, alhasil pinjamanpun tidak didapatkan. Dan hari ini Bank berlomba-lomba untuk member pinjaman kepada Susi.
Bagi Susi, meski sokolah hanya hingga SMP, bukan berarti berhenti berbuat dan bekarya untuk dirinya dan orang lain. Berkonsentrasi dari bakat bisnis yang telah dimilikinya semenjak masih belia, Susi mencoba berbagai macam cara untuk menjual hasil tanggapakan lautnya. Pendiriannya yang kuat dan kemauannya yang keras dalam mengarungi hidup diusia yang masih muda belia, terlihat jelas ketika Susi mengambil keputusan untuk keluar dari sekolah ketika masih kelas II SMA.
Prinsip itu tidak hanya sampai disitu saja, bahkan Susi memutuskan untuk keluar dari rumah, bukan karena menyesal, tapi dia tak ingin menumpang hidup dengan oarang tuanya, ditambah lagi, ketidaksetujuan sang Ayah terhadap sikapnya untuk berhenti sekolah, tapi murni karena ingin mencoba hidup sendiri dan mandiri tanpa baying-bayang orang tua, meskipun dia terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan.
Susi menyadari betul, bahwa keputusan yang dia ambil tidaklah mudah atau tidak semudah yang dibayangkan. Ditambah lagi dengan ijasah SMP yang dia punya, tentu dia tidak bisa berbuat banyak untuk melamar pekerjaan. Jalan yang paling masuk akal saat itu bagi Susi adalah berwirausaha, dan karena itulah kerja keras itupun dilakoninya. Mulai dari bejualan baju, bed cover, hingga yang manarik ia menjual hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi tak berhenti bekeliling kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga suatu saat, ia menyadari satu hal tentang kota itu, potensi terbesarnya ada pada bidang perikanan.
Pada awalnya, tak banyak yang bisa dilakukan Susi dengan ijazahnya yang hanya hingga SMP, mengingat cita-cita besarnya untuk jadi seorang yang ahli dalam kelautan. Tapi Susi tidak mau menggeser cita-cita itu, ia tetap abdikan dirinya sembari menyambung hidup dalam bisnis kelautan.
Mulai saat itulah, Susi mengambil keputusan ingin berjualan ikan karena setiap hari dia melihat ratusan nelayan berseliweran di Pangandaraan. Di tahun 1983, berbekal Rp.750 ribu hasil penjualan perhiasan berupa gelang, kalung serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak para wanita Pangandaran menjadi bakul ikan. Tiap pagi di jam- jam tertentu, dia bergabung bersama bakul ikan lainnya berkerumun di di TPI (tempat pelelangan ikan). Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, bisnis Susi selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Dia bergerak sendiri menjajakan ikan dan hasil laut lainnya kepada para pedagang dan restouran, baik di Pagandaraan dan sekitarnya dan bahkan hingga ke Jakarta.
Susi pernah berkisah, pada hari pertama dia menjadi bakul ikan, dia hanya memperoleh 1 kilogram ikan, yang kemudian dibeli sebuah resto kecil kenalannya. Namun pada akhirnya, tak cukup hanya di Pangandaran saja, Susi ingin mengembangan bisnisnya hingga kota besar seperti Jakarta. Berawal dari menyewa kendaraan untuk mengangkut ikan hasil tanggapan para nelayan, akhirnya dia berhasil dan sukses membeli sebuah truk dengan sistem pendingin es batu yang bisa membawa ikan- ikan segarnya ke Jakarta. Bahkan tiap sore hari, lebih kurang pukul 15.00  setiap sorenya, Dia berangkat dari Pangandaran, menuju Jakarta dan sampai menjelang tengah malam, lalu kembali lagi ke Pangandaran.


****

Susi Pudjiastuti merupakan perempuan asli Jawa, namun sudah bertahun-tahun bahkan sudah beberapa generasi menghabiskan hidup di Jawa Barat, tepatnya diPangandaran. Dengan bisnis keluarga yang dibangun di pangandaran, akhirnya Susipun luwes berbahasa Sunda.
Sebagai pedagang dan pengusa ikan segar, pelanggan Susi tidak saja dari Indonesia, dia bahkan sudah puluhan tahun melayani pelanggannya dari manca negara, dan ia sering terbang keluar negeri dengan pesawatnya sendiri. dan tentu saja, ia juga fasih dalam melafalkan bahasa internasional itu “ingris” dan seolah dia berlidah bule.
Tentu saja banyak kisah orang sukses di Indonesia dimana mereka tidak tidak menamatkan sekolahnya, dan Susi adalah salah seorang dari orang sukses itu dan uniknya, dia adalah seorang perempuan. Rasanya semua orang akan berdecak kagum dan nyaris tidak percaya pada keberhasilan Susi jika mereka tahu masa lalunya yang hanya lulusan SMP.
Selama ini sosok Susi nyaris luput dari sorot media nasional, bahkan dalam bentuk apa saja. Tidak banyak orang yang mencari tahu sosok Susi perempuan sukses dari Pangandaran, padahal begitu banyak hal unik dan pelajaran yang dapat dipetik dari sosok uletnya.
Dulu ketika gempa dan tsunami aceh melanda, nama Susi pernah disebut-sebut media, kemudian hilang kembali. Beberapa tahun setelah itu, namanya kembali muncul pada salah satu acara talk swow di Metro TV Kick Andy pada 30 Maret 2008. Dan setelah itu, berita Susipun hilang kembali.
Banyak pihak hari ini berkata, seharusnya hari Kartini lebih banyak mengupas sosok perempuan seperti Susi Pudjiastuti. Karena begitu banyak inspirasi yang bisa ditularkan dari sosoknya yang cuek, namun bersahaja. Sosok perempuan pebisnis, yang membangun bisnisnya dari nol, sehingga menjadi perusahaan pengekspor hasil laut segar (lobster, tuna, udang, kakap) kelas kakap di Indonesia dengan nilai ekspor puluhan juta USD.
Dari hasil wawancara sebuah majalah on line Niriah.com dengan susi, banyak sekali kisah unik dari perjalanan bisnis yang dijalani Susi sembari mengentaskan kemiskinan diberbagai pelosok di Indonesia.
Ada kisah seseorang dari Papua yang kemudian datang kepada Susi dan mengungkapkan bahwa Susilah yang bisa mengentaskan kemiskinan nelayan di tempat mereka. Dan pada saat yang lain, datang seorang perempuan dari Malang yang mengeluhkan kepadanya tentang bisnisnya yang selalu gagal dan kemudian meminta nasehat untuk sukses dari Susi. Dan kisah ini menariknya, apa yang disampaikan Susi, bahwa si perempuan diminta untuk menjual rumahnya, kemudian uangnya dipergunakan untuk modal.
Dulu sebelum sukses, Susi pernah bercerita bahwa dia mengontrak rumah selama 16 tahun, sebelum dia membeli rumah sendiri. itulah uniknya Susi Pudjiastuti, seorang eksportir hasil laut yang juga Presiden Direktur PT ASI Pudjiatuti Aviation atau dikenal dengan Susi Air, yang melayani penyewaan pesawat penumpang dan cargo.
Suksesnya Susi dengan armada penerbangannya yang cukup banyak, memberikan harapan baru bagi banyak orang untuk mempergunakan jasanya dan kerja sama susi dengan pihak luar dalam mengeskpor segala macam hasil usaha dari dalam negeri. Bahkan ada yang datang kepada Susi, seorang lelaki muda dari Yogyakarta yang menawarkan belut untuk diekspor ke Jepang. Susi menjawab dengan begitu simpatik, "Saya tidak janji ya, tapi saya akan berusaha cari pasarnya dulu, dan nanti saya akan beritahu kabarnya”.
Kesahajaan dan sikap simpatik Susi begitu terlihat ketika dia berhadapan dengan para karyawannya. Pernah suatu ketika ia mengumpulkan para karyawannya yang didatangkan dari Jakarta, dan seorang kepala HRD yang berkedudukan di kantor Susi Air Medan di rumah dekat pantai Pagandaran. Di rumah yang dibangun di atas kolam buatan Susi duduk di sofa, dengan jemarinya yang tak henti memetik rokok dan menghisapnya, dan sesekali ia menyeruput kopi pahitnya. Sambil menerima dan ngobrol dengan para tamunya, Susi sering sekali pamit karena harus menerima telepon. Seiring waktu berjalan, juga diiringin oleh para karyawannya yang datang dan pergi, meminta tanda tangan dan lain sebagainya. Dan bahkan dalam kondisi yang sesibuk itu, ia masih saja sempat mengingatkan sekretarisnya yang sakit untuk minum vitamin dan memerintahkannya untuk segera pulang.
Ada nilai yang sangat mahal yang bisa kita dapatkan dari kisah perjalanan hidup Susi yang begitu penuh pesona kegigihan. Sebuat saja diantaranya, Pertama, ia seorang yang sukses karena gigih melewati proses. Siapa yang bisa mengira, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin miliknya, Susi mulai jadi pengepul ikan pada 1983. Pada saat itu, kesanggupannya dan keberhasilannya terlihat begitu bertahap. Pada saat pertama memulai jadi bakul ikan, ia hanya sanggup membeli 1 kg ikan, esok harinya naik 2 kg, lusa 5 kg. dan begitulah seterusnya. Dan dalam tempo setahun, dari pasar pangandaran ia berhasil memasuki pasar Cilacap.
Susi begitu lihat melihat peluang usaha, tak mau puas dengan keberhasilan menjual ikan, dia memulai bisnis menyewakan perahu untuk nelayan mencari ikan dan mobil untuk pengiriman. Dan saat ini, bisnis penyewaan perahu Susi sudah berjumlah ratusan perahu serta puluhan unit truk untuk pengiriman.
Banyaknya hasil tanggapan laut dari nelayan yang menyewa perahu darinya, ia pun menjadi penyalur tetap hasil laut ke beberapa pabrik besar di Jakarta. Dan setiap harinya, mulai sore hari ia berangkat ke Jakarta untuk setor hasil tanggkapan keberbagai restouran dan pabrik pengolahan ikan. Dan sampai di Jakarta malam, begitu selesai istirahat dan berkemas ia pun langsung balik ke Pangandaran.
Susi terus berproses untuk maju. Sebagai pebisnis yang selalu ingin maju, dari pengepul, pemasok pabrik dan restoran, Susi kemudian meningkatkan usahanya menjadi produsen dan pengekspor hasil laut.
Kedua, dia selalu berusaha memberi nilai tambah. Rumus baku dari setiap pebisnis handal, bahwa nilai tambah merupakan keuntungan yang berlipat. Begitu juga hal yang dilakukan oleh Susi. Ia tahu, semakin segar ikan yang diekspornya, semakin tinggi pula harganya. Harga ikan dan udang yang fresh sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, bisa dua kali lipat lebih mahal. Sebut saja, ikan laut yang biasanya US$ 3/kg, maka kalau tiba kurang dari sehari semalam, harganya bisa menjadi US$ 8/kg. Itu sebabnya ia tak segan-segan membeli pesawat terbang Cessna agar ikan atau udang yang diekspor bisa tiba kurang dari 24 jam.
Nilai tambah yang lain juga disadari betul oleh Susi, bahwa semakin murni ikan itu dari bahan pengawet, semakin banyak diburu penggemarnya. Maka ia pun membuat pabrik pengolahan ikan tanpa bahan kimia. Pendinginnya pun ramah lingkungan karena menggunakan amoniak, bukan freon yang merusak ozon. Bahkan ia juga paham, meski karyawannya bergelut dengan ikan setiap hari, mereka membutuhkan tempat kerja yang nyaman. Maka pabrik ikannya pun dibangun mirip mal penuh dengan keramik dan kaca, meski untuk itu ia harus mengeluarkan biaya investasi yang lebih mahal untuk bangunan pabriknya.
Ketiga, ia mengamalkan ilmu ekonomi bisnis. Meski bukan terlahir sebagai sarjana ekonomi, sarjana bisnis atau manajemen, tapi Susi begitu paham fhiloshofi bisnis, meski dia tidak mengerti teori bisnis yang dipelajari diberbagai perguruan tinggi. Akan tetapi ketika ditanya resep suksesnya, maka dia akan menjawab, “kalau orang mau berdagang, ya sediakan barang yang bagus, kasih harga yang bagus”.
Meski tidak mengenyam pendidikan formal dalam berbisnis, namun dari jejak usahnaya, terlihat jelas bahwa Susi justru mengamalkan berbagai ilmu manajemen yang banyak diteorikan oleh para pakar manajemen hari ini.
Kendatipun dirinya tidak menamatkan program wajib belajar, Susi tetap sadar bahwa pendidikan itu penting, dia juga tidak menyarankan pada banyak orang untuk mengikuti jejaknya berhenti sekolah dan kemudian membangun bisnis. Kesadaran itu juga yang meyakinkan dia, dengan merekrut mereka-mereka yang betul-betul mengerti dan faham akan dunia yang digelutinya untuk membangun kerajaan bisnisnya.
Bagi Susi, dengan tiga faktor di ataslah, ia bermetamarfosa dari ulat (seorang wanita yang tidak tamat sekolah, namun tekun dan ulet menggeluti bisnisnya tanpa mengeluh, pantang menyerah dan tidak gampang puas) menjadi kupu-kupu yang cantik (menjadi pengusaha eksportir hasil laut yang sukses). Kini Susi telah menjadi kupu-kupu  besar yang cantik yang siap terbang ke angkasa dengan membangun bisnis maskapai pesawat carteran, sebagai ekspansi usahanya.
Dari pesawat Cessna yang semula hanya dipergunakan Susi untuk mendukung ekspor hasil lautnya biar mendapatkan nilai tambah, sekarang pesawat-pesaawat itu menjelma menjadi puluhan dan mampu menggugah semangat wirausahanya untuk masuk ke bisnis yang lebih besar dengan pesawat carteran. Bahkan, pesawat-pesawat itu mampu menembus daerah-daerah pelosok, termasuk Aceh dan Papua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar